Skip to content

Tim Sukses Tidak Resmi di Sekitar SBY-Boediono

 
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Keberadaan Jendral (Purn) Sutanto dalam Gerakan Pro SBY (GPS), salah satu tim sukses pasangan SBY-Boediono menuai kontroversi. Bawaslu mempersoalkan karena status Sutanto adalah Komisaris Utama Pertamina, BUMN bidang perminyakan. Secara aturan, komisaris BUMN tidak boleh terlibat sebagai tim sukses. Pihak Sutanto sendiri berdalih GPS bukanlah tim sukses, tapi menjadi semacam fans club bagi pasangan SBY-Boediono.

Gerakan Pro SBY dipimpin oleh Ketua GPS Suratto Siswodihardjo. Sedangkan nama-nama seperti Mantan Kapolri Sutanto, Mantan KSAU Marsekal TNI (Purn) Herman Prayitno, Menkes Siti Fadillah Supari, Menhut MS Kaban, Mantan Kasum TNI Letjen (Purn) Suyono, Mantan Kaster TNI Letjen (Purn) Agus Widjojo didudukkan sebagai penasehat

Di sinilah duduk persoalannya. Selain tim sukses resmi yang terdaftar di KPU, kandidat capres-cawapres ternyata juga memperkuat diri dengan tim sukses yang tidak resmi yang tidak terdaftar di KPU. Ada beragam istilah yang digunakan untuk menyebut tim sukses tidak resmi ini, fans club, relawan dan sebagainya. Ketiga pasangan capres-cawapres memiliki tim sukses tidak resmi.

Dalam Pemilu Persiden 2009, selain GPS Pasangan SBY-Boediono juga didukung oleh banyak tim sukses yang tidak tercatat di KPU. Beberapa nama yang dapat disebut di sini antara lain: Tim Echo yang bertugas mengadopsi fungsi teritorial militer untuk mendongkrak suara Partai Demokrat di daerah. Tim ini ramping, hanya ada satu pimpinan di kecamatan, Tim Sekoci yang bertugas sebagai penyokong Partai Demokrat menggapai perolehan suara mencapai 20 persen. Tim ini mendata tokoh masyarakat, pengusaha, tokoh agama, tokoh perempuan, petani, nelayan, Tim Delta yang mengurusi semua perlengkapan kampanye, Tim Romeo yang bertugas menjalin komunikasi dengan rakyat. Segala kebijakan SBY yang dianggap berhasil disosialisasikan oleh kelompok ini. Tim juga mengelola PO BOX 9949 dan SMS 9949.

Ada juga Tim Foxtrot, konsultan Partai Demokrat. Lebih dikenal sebagai Bravo Media Center, dengan pengasuh utama Choel Mallarangeng yang juga Direktur Utama Fox Indonesia. Kemudian Jaringan Nusantara, yang dikelola oleh aktivis mahasiswa dan mantan aktivis mahasiswa seperti Andi Arief, Harry Sebayang dan Aam Sapulette dan Yayasan Dzikir SBY Nurussalam yang dibina oleh Habib Abdul Rahman M al-Habsy dan beberapa orang dekat SBY.

Di luar itu masih ada tim sukses tidak resmi yang menamakan dirinya sebagai Brigade Elang. Tim yang dipimpin Ketua Dewan Pembina Hayono Isman ini menfokuskan diri pada untuk menjaring suara dari keluarga TNI dan Polisi. Kemudian ada tim yang bernama Pandu 57, yang diketuai oleh Seno Ajie. Tim ini berfokus mengawal cawapres Boediono termasuk mengcounter isu yang diarahkan padanya. Tokoh-tokoh yang masuk dalam tim ini antara lain: Sri Edi Swasono, Sri Adiningsih, Gunawan Sumodiningrat, Raden Pardede, Erros Djarot dan Setiawan Djody. Masih ada juga Koalisi Kerakyatan yang dipimpin oleh Jumhur Hidayat.

Hal terpenting dari keberadaan tim sukses tidak resmi ini adalah keleluasaannya dalam menggali sumber dana. Mereka tidak terikat dengan aturan sumbangan kampanye dalam UU Pemilu karena memang tidak pernah dianggap sebagai tim sukses pasangan capres-cawapres. Kita tentu masih ingat bagaimana SBY menolak keberadaan Munawar Fuad Nuh dan Imam Addaruqutni yang menerima dana dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri. Alasannya, mereka tidak terdaftar di KPU meski secara jelas berkiprah dalam pemenangan SBY pada pilpres 2004. ***