| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Semua perwira AD tentu memiliki pengalaman operasi di Timtim, ketika Timtim masih masuk wilayah RI, termasuk para purnawirawan jenderal yang maju sebagai capres atau cawapres. Figur seperti SBY yang lama berdinas di Kostrad, atau Prabowo yang berasal dari Kopassus, menjalankan tugas operasi di Timtim merupakan hal biasa. Rupanya pengalaman saat operasi bersama di Timtim dulu, masih ada jejaknya, yang dijadikan rujukan dalam memilih anggota Tim Sukses.
Khusus dalam tim sukses SBY, selain kategori pengalaman dalam operasi Timtim, pengalaman tugas dalam fungsi sosial-politik, serta kebersamaan saat bertugas di lingkungan Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad, juga dijadikan rujukan. Dalam penugasan di Timtim, pengalaman SBY sendiri termasuk kuat, antara lain sempat menjadi Komandan Yonif 744/Satya Yuda Bakti (saat itu masih berbasis di Dili), kemudian ketika menjabat Komandan Brigif Linud 17, SBY juga merangkap sebagai Komandan Sektor Baucau (1994).
Kategorisasi itu bisa disebut “tradisi” SBY dalam memilih pembantu-pembantunya, baik dalam birokrasi (selaku Presiden) maupun dalam kancah politik. Dalam menunjuk ajudan misalnya, SBY memilih Kol Inf Munir yang sama dengan dirinya, sebagai sesama mantan Komandan Brigif Linud 17. Mantan Komandan Brigif 17 lain, yang juga selalu dekat dengan SBY adalah Letjen TNI (Purn) Agus Wijoyo. Selanjutnya untuk posisi Sekretaris Pribadi Kepresidenan, SBY memilih Kol Arm Ediwan Prabowo, yang juga lulusan terbaik Akmil. Ediwan Prabowo adalah luluisan terbaik Akmil 1984.
Jabatan terakhir SBY di TNI adalah sebagai Kassospol ABRI/TNI (jabatan yang sudah dlikuidasi), jabatan itu bisa dianggap sebagai puncak karir SBY. Mengapa begitu? Saat menjadi Kassospol TNI, di masa transisi dari masa Orde Baru ke Era Reformasi, ia membawahi para seniornya di Akmil, yang kemudian juga diminta membantunya dalam kabinet, sesuatu yang jarang terjadi, karena kebiasaan hirarki di TNI, yang senior membawahi yang yunior. Saat menjadi Kassospol, SBY antara lain pernah membawahi Letjen TNI (Purn) Mardiyanto (Akmil 1970, mantan Assospol Kassospol, kini Mendagri) dan Letjen TNI (Purn) Sudi Silalahi (Akmil 1972, mantan Assospol Kassospol, kini Mensekab). Kemudian yang menggantikannya sebagai Kassospol juga seniornya jauh, yaitu Letjen TNI (Purn) Agus Wijoyo (Akmil 1970), yang kini diangkatnya pula sebagai penasehatnya di Istana, sekaligus anggota tim suksesnya.
Ketika masih merintis jalan menuju Istana, pada 2004, hingga upaya maju lagi dalam periode kekuasaan kedua ini, tim sukses SBY tetap tidak meninggalkan tiga track record : penugasan di Timtim, penugasan di Sospol TNI dan eks Brigif 17/Kujang I. Termasuk dalam kategori ini, adalah nama Letjen TNI (Purn) M Maruf (Akmil 1965), mantan Kassospol ABRI dan Danrem di Timtim, yang menjadi “Komandan” tim sukses SBY pada Pilpres 2004, yang kemudian diangkat sebagai Mendagri (kini sudah digantikan oleh Mardiyanto).
Kini para “veteran” perang Timtim tersebut, memasuki episode menarik, di mana sebagian di antara mereka saling berhadap-hadapan, guna memenangkan “pertempuran” di medan yang lain. Bisa jadi pertarungan kali ini lebih menegangkan, lebih menguras energi dan andrenalin mereka, dibanding operasi tempur di belantara Timtim dahulu.
Kemudian bagi anggota tim sukses SBY, yang sarat pengalaman dalam penugasan bidang Sosial-Politik, mencakup bidang intelijen pula. Bagi kalangan militer, bidang sospol dan intelijen adalah identik, karena bergerak di medan yang sama, yakni menggalang opini publik dan mengelola isu-isu sosial politik, untuk mensukseskan misi mereka. Singkatnya, mereka adalah perwira-perwira yang sangat terlatih, bagaimana mengarahkan isu-isu sospol untuk kepentingan propaganda, yang memang pas untuk kebutuhan kampanye (khususnya) SBY.
Apa yang kita saksikan hari-hari ini, ibarat pertandingan antar pendekar dari satu perguruan. Karena dari perguruan yang sama (Akmil Magelang), sebenarnya di antara sesama tim sukses – pesaing SBY - sudah saling kenal. Dan sudah bisa saling mendeteksi, kira-kira jurus dan taktik apa yang bakal dimainkan. Bahkan, kelemahan dan kekuatan masing-masing pun, mereka sudah saling mafhum. Kini yang perlu diagendakan adalah, mengoptimalkan sumber daya, mereduksi kelemahan, untuk meng-endorse jago masing-masing.***