Skip to content

Theo Syafei: Lituania Expresso dan Tuduhan Politik Uang Pilgub Kaltim 2003

 
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Dalam daftar tim sukses Mega-Prabowo yang didaftarkan ke KPU, Theo Syafei dipercaya menjadi ketuanya. Bukan kali ini saja Theo Syafei menjadi ketua tim sukses calon presiden. Pada Pilpres 2004, Theo juga sempat didapuk menjadi ketua badan pemenangan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi. Pasangan ini sempat melaju ke putaran kedua sebelum dikalahkan pasangan SBY-JK. Pada pemilu legislatif 2009 lalu, Theo adalah juga Ketua Badan Pemenangan PDI-Perjuangan. Dan sekarang jabatan terakhirnya di PDIP sebagai Ketua Bidang Keamanan dan Pertahanan.

Theo Syafei yang lahir di Makassar 30 Juni 1941 merupakan sosok yang tak asing lagi di tubuh PDI-Perjuangan. Dia pernah menjabat sebagai Ketua DPP PDI-Perjuangan periode 1998-2000 dan 2000-2005. Selain itu, dia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat tahun 1999-2004 dari PDI-Perjuangan. Dengan kendaraan politik yang sama, dia terpilih kembali menjadi wakil rakyat pada tahun 2004 dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur. Sebelumnya Theo juga pernah ikut mencicipi kursi DPR dari Fraksi ABRI pada tahun 1995-1997 ketika masih aktif di militer.

Catatan penting dalam karir politik Theo Syafei adalah dia pernah dilaporkan Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) ke Mabes Polri dengan tuduhan politik uang pada Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur periode 2003-2008. Saat itu, Theo bersama Wakil Sekjen PDI-Perjuangan Agnita Singedekane diisukan mendorong anggota DPRD Kaltim dari PDIP untuk mencalonkan kembali Suwarna Abdul Fatah untuk menduduki jabatan gubernur kali kedua. Padahal sebelumnya, DPP PDI-P sudah memutuskan bahwa calon gubernur dari PDI-P adalah Imam Mudjiat. Namun dalam pertemuan dengan anggota Fraksi PDI-P DPRD Kaltim tersebut Theo dikabarkan merekomendasikan Suwarna Abdul Fatah. Akibat tuduhan itu, Theo sempat mengajukan pengunduran diri dari jabatan Ketua DPP PDI Perjuangan.

Sedangkan catatan penting di karir militer Theo adalah saat lulusan Akademi Militer Nasional Angkatan 1965 itu mengusir kapal Lituania Expresso yang membawa sejumlah wartawan dan aktivis hak asasi manusia pasca peristiwa berdarah di Santa Cruz, Timor Timur, 12 November 1991. Pengusiran itu berlangsung tanpa insiden. ***