Skip to content

Rilis Hasil Survei, LSI Sebutkan Pendana

Rabu, 24 April 2009

JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Lembaga Survei Indonesia (LSI) kembali megeluarkan hasil surveinya yang menempatkan elektabilitas SBY-Boediono yang tertinggi dibanding dua pasangan lainnya. Berbeda dengan dua survei LSI sebelumnya, elektabilitas SBY-Boediono kali ini mengalami penurunan sebesar 3% yang yang diiringi kenaikan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dengan sebesar 2%, sementara Mega-Prabowo tidak mengalami kenaikan yang berarti. Dalam survei yang dilakukan pada tanggal 15 sampai 20 Juni lalu, pasangan SBY dipilih oeh 67%, Mega-Prabowo 16% dan JK-Wiranto 9%.
Menurut Direktur LSI Saiful Mujani, keunggulan SBY-Boediono bertahan karena persepsi publik yang masih positif dan merasa puas terhadap kondisi makro seperti arah negara, ekonomi dan keamanan, yang dinilai relatif baik. “Inilah dasar sikap dan opini pemilih yang masih besar jumlahnya memilih SBY,” kata dia.

Juru Bicara Pasangan SBY-Boediono Rizal Mallarangeng mengatakan bahwa hasil survei ini adalah potret sementara dari sebuah kenyataan pendapat dan sikap masyarakat. Survei ini, katanya, dapat menjadi peta bagi tim sukses SBY-Boediono. “Peta yang baik dapat membuat kita mendesain strategi dengan baik, dan semoga nanti tidak berbeda jauh dengan hasil ini” katanya.

Anggota tim sukses JK-Wiranto Indra J Piliang menilai kenaikan 3% untuk pasangan JK-Win menunjukkan trend pilihan pemilih yang semakin rasional dan berkualitas. “Kami menganggap pemilih yang lari ke pasangan JK-Wiranto adalah pemilih yang bernas, yakni berkualitas tinggi yang tidak terpengaruh oleh citra,” kata dia.

Sementara itu, Maruar Sirait dari tim sukses Mega-Pro justru menyangsingkan hasil survei tersebut. Dia menilai hasil survei sebagai bentuk pengalihan opini publik. Menurut Lembaga survei, katanya, telah menjadi pemain politik dengan menggiring pemilih pada satu putaran.

Terlepas dari pro kontra hasil surveinya, LSI pada kesempatan itu menunjukan itikad baiknya untuk menyebutkan sumber pendana. Menurut direktur eksekutifnya, survei tersebut didanai oleh Yayasan Pengembangan Demokrasi Indonesia (YPDI) dan mendapat sokongan dana dari Fox Indonesia. Fox Indonesia sendiri merupakan konsultan politik partai Demokrat dan pasangan capres-cawapres SBY-Boediono.

Penyebutan kedua sumber pendana oleh LSI sebenarnya membuka babak baru dalam tradisi survei di Indonesia. Selama ini, lembaga survei atau pollsters memandang tabu bila menyebut siapa yang mendanai di balik survei tersebut. Menyebut sumber pendanaan sama juga dengan mencoreng nilai legitimasi. Padahal dalam kode etik yang disusun oleh World Association for Public Opinion Research (WAPOR), lembaga survey memiliki kewajiban untuk menyebutkan siapa pendana di balik survey tersebut. (Mawardi)