Skip to content

Para Pensiunan Kopassus di Kubu Mega Pro

 
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Pasangan Mega – Prabowo (Mega-Pro) diperkuat beberapa mantan perwira Baret Merah atau Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus). Itu bisa dimengerti karena Prabowo sendiri adalah figur legendaris sekaligus kontroversial di Baret Merah. Dua tokoh asal Baret Merah dimaksud adalah Mayjen Purn Theo Syafei dan Mayjen Purn Muchdi Purwopranjono. Mayjen Purn Theo Syafei adalah Ketua Umum Tim Sukses pasangan Mega-Pro. Theo bisa dianggap sebagai tangan kanan Megawati, ibaratnya, dimana ada Megawati, di sana ada Theo Syafei. Sedang Mayjen Purn Muchdi adalah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, dan memang dikenal dekat dengan Prabowo sejak sama-sama berdinas di Kopassus dulu. Theo Syafei menjalankan peran penting ketika PDI Perjuangan bernegosiasi dengan Prabowo untuk membentuk koalisi Megawati-Prabowo.

Nama Theo mulai dikenal luas pada awal tahun 1992, ketika ditunjuk sebagai Pangkolakops (Panglima Komando Pelaksana Operasi) Timtim, pasca “Peristiwa Santa Cruz” menggantikan Brigjen TNI RS Warouw, yang kebetulan rekan seangkatannya di Akmil 1965. Adapun jabatannya sebelum ditarik ke Timtim adalah sebagai Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad (Cilodong, Bogor). Timtim bukanlah wilayah yang asing bagi Theo, dia sudah menyusup ke Timtim dalam Operasi Komodo, jauh sebelum Operasi Seroja (operasi yang lebih terbuka) dimulai pada 6 Desember 1975. Dalam perjalanan karirnya, Theo sempat pula menjadi Komandan Brigif Linud 18/Trisula Kostrad (1984 – 1986).

Theo berasal dari Akmil 1965, dan kebetulan Theo adalah “Kepala Suku” dari generasi itu, seperti halnya SBY di Akmil 1973. Itu sebabnya wibawanya masih terpancar dari sosoknya. Persoalannya sekarang, di kubu lain juga banyak bercokol figur jenderal, bahkan sesama 1965. Di kubu SBY – Boediono, setidaknya terdapat dua eksponen Akmil 1965, yaitu Mayjen Purn Achdari dan Letjen Purn Soejono. Belum kalau Mayjen Purn Syamsir Siregar (Kepala BIN), juga turut dimasukkan. Apakah Theo Syafei sanggup menghadapi psy war, perang opini, dan jenis “perang” lainnya, menghadapi beberapa koleganya, yang di antaranya adalah alumnus Akmil 1965 juga.

Soal figur Mayjen Muchdi PR, tampaknya hari-hari kampanye ini merupakan hari yang menggembirakan baginya, karena menjelang dimulainya masa kampanye, ia divonis bebas dalam kasus terbunuhnya pembela HAM Munir. Saat peristiwa itu, Muchdi menjabat sebagai Deputi Bidang Penggalangan di BIN. Muchdi lahir di Sleman, 15 April 1948, merupakan lulusan Akmil 1970. Setelah lulus Akmil, sebagian besar karirnya dihabiskan di lingkungan Baret Merah, mulai 1972 sampai 1987. Mulai dari Komandan Peleton, hingga Komandan Karsa Yudha (setingkat batalyon). Pengalaman operasi antara lain, operasi di Timtim dan Papua.

Selepas bertugas di Kopassus, Muchdi ditarik ke Pusdik Intel di Ciomas, Bogor. Kemudian berlanjut sebagai Dandim Jayapura (1988). Saat menjadi Dandim Jayapura inilah, dia berhasil menangkap hidup Presiden Republik Melanesia Barat, Dr Thomas Wangggai. Selanjutnya menjadi Kasrem 173 Biak (1991), Asops Kodam IX/Udayana (1993), Danrem 042/Garuda Putih (Jambi, 1995).

Saat menjadi Danrem Jambi, terjadi bencana alam (gempa) di Kabupaten Kerinci, pada 7 Oktober 1995. Selaku pejabat Muspida tingkat provinsi, dia aktif menanngulangi bencana, dan perannya memang sangat menonjol, sampai-sampai ia berkantor sekian lama di Kodim Kerinci. Setelah menjadi Danrem Jambi, ia dipromosikan sebagai brigjen, dengan pos Kasdam V/Brawijaya (1996).

Pada 17 Agustus 1997, bintang Muchdi naik lagi, dengan dipromosikan sebagai Pangdam VI/Tanjungpura. Tidak terlalu lama bertugas di Kalimantan, hanya sekitar tujuh bulan, dan akhirnya Muchdi kembali lagi ke Cijantung, Markas Komando Kopassus, setelah ditinggalkan sekitar 12 tahun. Benar, pada 28 Maret 1998, Muchdi dilantik sebagai Danjen Kopassua, menggantikan Letjen TNI Prabowo Subianto, yang kini didukungnya sebagai Cawapres. Sebagai Danjen Kopassus, rupanya terminal akhir bagi karir militer Muchdi. Ia ikut diperiksa Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang menelitinya bersama Letjen Prabowo atas dugaan kasus penculikan para aktifis. ***