Skip to content

Meutia Hafid, Memisahkan Jurnalis dan Politisi

 
JAKARTA[KANALPEMILU.NET] -- Bagi masyarakat yang sering menonton acara berita di Metro TV mungkin tak asing dengan nama Meutia Hafid. Wajahnya yang khas dan karakter suara jelas, membuatnya menjadi salah satu presenter berita terfavorit di Metro TV di samping Najwa Shihab.

Wanita kelahiran Bandung, 3 Mei 1978 menghabiskan masa-masa pendidikannya di luar negeri. Sebelum menginjak bangku kuliah misalnya, Meutia sudah menghabiskan masa pendidikan selama 2,5 tahun di Singapura dan kemudian melanjutkan ke pendidikan tinggi jurusan teknik industri di University of New South Wales, Sidney Australia.

Karir jurnalistik Meutia Hafid dibangun ketika ia kuliah di Australia dengan mejadi penyiar radio komunitas di Australia dengan program Suara Indonesia. Seusai menamatkan pendidikan tingginya tersebut, Meutia pulang ke Indonesia dan langsung bergabung dengan perusahaan media milik pengusaha yang juga Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar, Surya Paloh yaitu Metro TV pada 2001. Di perusahaan media berlambang elang ini, Meutia dikenal sebagai salah satu wartawan handal dan presenter cerdas.

Catatan penting dalam karir jurnalistik Meutia Hafid adalah ketika dirinya menjadi sandera Kelompok Mujahidin (Jaish al-Mujahideen) ketika ditugaskan meliput ke medan perang di Irak. Selama 168 jam dalam rentang waktu 15-22 Pebruari 2005, Meutia menjadi sandera dari kelompok itu. Untuk membebaskan Meutia, kelompok Mujahidin meminta uang tebusan. Terdengar santer kabar bahwa bos Media Group, rela mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk menebus karyawan “kesayangan”nya ini.

Meutia akhirnya merambah ke dunia politik. Berkat kepiawaiannya bergaul dengan kalangan politisi, akhirnya Meutia Hafid diminta untuk bergabung dengan Partai Golkar. Tidak perlu menunggu lama, Meutia pun menyetujui permintaan Partai Golkar. menjadi salah satu calon anggota legislatifnya di daerah pemilihan Sumatera Utama (Sumut) I yang meliputi Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Kota Tebing Tinggi.

Daerah pemilihan Sumut I dikenal juga sebagai medan perang bagi caleg yang akan bertarung. Partai-partai peraih kursi di parlemen saat ini, seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrat, dan PDI-Perjuangan misalnya juga memasang kader terbaiknya untuk bersaing di wilayah ini. Nama-nama seperti Sutan Batugana, Tifatul Sembiring, dan Panda Nababan, adalah sedikit tokoh yang akan berlomba menarik simpati masyarakat di Daerah Pemilihan Sumut I.

Ketika Meutia Hafid terjun di dunia politik, dirinya menyadari harus mengundurkan diri dari karir jurnalistiknya untuk menghindari conflict interest. Untuk berpamitan sementara dari karir jurnalistiknya, Meutia juga mengadakan acara pamitan yang di gelar di Jakarta pada 10 Oktober 2008 silam. Dalam acara pamitan tersebut, Meutia mengakui bahwa menjadi politisi bukanlah cita-citanya, namun setelah melalui perenungan dan diskusi dengan berbagai pihak akhirnya ia memutuskan menerima tawaran dari partai berlambang beringin tersebut. Ia pun membantah sebagian pihak yang menuduhnya latah dan tidak memiliki visi misi jelas.

Dalam pengumuman daftar calon terpilih versi Komisi Pemilihan Umum (KPU), nama Meutia Hafid dinyatakan tidak mendapatkan kursi untuk Daerah Pemilihan Sumatera Utara I. Walau pun Meutia gagal masuk ke senayan, namun langkah politiknya tidak terhenti sampai di situ. Komitmennya untuk membawa perubahan dalam versinya diwujudkan dengan bergabung sebagai salah seorang tim sukses pasangan Jusuf Kalla-Wiranto Meutia Hafid bertugas menjadi Humas dan Juru Bicara.

Tidak jelas, sampai kapan ijin cuti yang diajukan oleh Meutia ke pihak perusahaannya akan berakhir. Satu hal yang pasti, sejak mendeklarasikan bergabung di dunia politik, sampai sekarang Meutia belum satu kali pun bertugas. Dia masih memisahkan diri dari rangkap posisi: jurnalis dan politisi.***