Skip to content

Mengapa Demokrat Menang

Kamis, 9 April 2009

JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Semua lembaga survei yang melakukan quick count yakni Lembaga Survei Indonesia, Lembaga Survei Nasional, Lingkaran Survei Indonesia dan CIRUS Surveyors Group melaporkan Partai Demokrat menjadi pemenang Pemilu Legislatif 2009.

Penghitungan progresif Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga menunjukkan posisi yang sama. Semula banyak lembaga survei (baik yang independen maupun yang tidak independen karena dibiayai oleh partai-partai politik) menempatkan Golkar sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2009.

Hanya Lembaga Survei Indonesia yang hasil surveinya konsisten bahwa Partai Demokrat akan memenangi Pemilu Legislatif. Lembaga Survei Indoensia berkali-kali menyatakan bahwa survei-survei opini publiknya tidak dibiayai oleh Partai Demokrat, namun dibiayai oleh dana mereka sendiri yang berasal dari sebagian keuntungan bisnis, bantuan lembaga-lembaga dana asing seperti IRI (International Republic Intitution), lembaganya Partai Republik Amerika Serikat dan lain-lain lembaga asing.

Ada beberapa hal mengapa Partai Demokrat mampu mengalahkan dua partai lama PDI
Perjuangan dan Partai Golkar, dua partai yang pernah memenangi Pemilu-Pemilu sebelumnya.

Pertama, karena pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dinilai berhasil meningkatkan
kesejahteraan ekonomi di satu pihak dan di pihak lain pemerintahan ini mampu memanfaatkan peluang yang ada sekecil apapun untuk membuat publik merasa diuntungkan. Ada terminologi “misery index” atau indeks kesengsaraan dalam kasanah prolitik praktis, yakni di mana pemerintahan dari partai yang berkuasa meningkatkan APBN-nya untuk social cost atau belanja untuk kesejahteraan masyarakat secara fantastis. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono memenfaatkan dengan sangat efisien misery index ini.

Program-program social cost atau social benefit diluncurkan sejak dua tahun lalu seperti PNPM Mandiri, kredit sangat murah dan hibah untuk pembangunan-pembangunan sekolah, bantuan tunai langsung untuk orang-orang miskin, bantuan beras miskin, dana bantuanpendidikan, penurunan harga bahan bakar minyak dan lain-lain.

Prestasi lainnya adalah “membiarkan” besannya sendiri Aulia Pohan diadili karena
dakwaan korupsi di Bank Indonesia. Tindakan ini member implikasi yang sangat luas
terhadap pemilih bagi komitmennya untuk memberantas korupsi. Pubik terlanjur menganggap Susilo serius memberantas korupsi.

Kedua, figur Susilo Bambang Yudhoyono masih menjadi harapan, ditambah dengan prestasi yang bagus dan strategi “misery index”, dibandingkan para pemimpin lainnya seperti Megawati Soekarnoputri (PDI Perjuangan), Jusuf Kalla (Partai Golkar), Wiranto (Partai Hanura), Prabowo (Partai Gerindra) atau Hidayat Nur Wahid (Partai Keadilan Sejahtera).

Susilo Bambang Yudhoyono masih dianggap sebagai figur yang “mengayomi”, tenang, tidak korup, dan memenuhi keyakinan masyarakat Indonesia yang tradisional-mesianistik bahwa sosok Susilo adalah sosok “ratu adil” yang akan membawa Indonesia yang multikultural ke dalam situasi yang lebih baik.

Ketiga, pemilih tidak lagi tertarik dengan retorika teologis partai-partai Islam yang lebih banyak intimidatif daripada janji-janji atau upaya menuju kesejahteraan. Publik pemilih Indonesia adalah publik pluralis dan nasionalis yang memberikan suaranya untuk partai-partai nasionalis. Partai Demokrat dianggap sebagai partai nasionalis yang paling memberi harapan disbanding dua partai nasionalis besar yakni Partai Golkar dan PDI Perjuangan.

Keempat, Partai Demokrat diuntungkan oleh perpecahan partai-partai pesaing seperti Partai Golkar di mana kelompok Akbar Tanjung menjadi ganjalan untuk konsolidasi, PDI Perjuangan yang kehilangan banyak suara karena “skisma” yang melahirkan partai-partai baru seperti Partai Demokrasi Pembaruan dan PNBK yang mengurangi suara PDI Perjuangan , PKB yang digembosi Golkar. Partai Demokrat juga diuntungkan karena PKS belum memiliki akar di pedesaan, eksklusif, dan cita-citanya akan pemerintahan dan Negara yang eksklusif membuat mayoritas publik pemilih “ketakutan” jika PKS memerintah.

PKS juga dirugikan dengan isu “anti” tari Jaipong yang menjadi simbol kebudayaan orang Sunda karena pernyataan larangan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, terhadap tarian itu karena dianggap porno.

Pernyataan itu, walaupun sudah ditarik, sangat menyinggung perasaan masyarakat Sunda. PKS juga dikenal dengan kesetujuannya atas poligami, sikap yang sangat tidak disukai pemilih perempuan.

Momentum-momentum inilah yang membuat Partai Demokrat memenangi Pemilu Legistatif. Semua ini juga akan membawa kemudahan-kemudahaan untuk memenangi Pemilihan Umum Presiden, September 20009. [Irawan Saptono]