| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Menyimak kampanye yang dilakukan tim capres-cawapres dalam Pilpres 2009 ini, sekilas ada dua model besar yang terlihat. Pasangan SBY-Boediono terlihat sangat menjual figur sang capres SBY. Hal ini dapat dilihat dari iklan dan tema pemberitaan tentang kampanye yang selalu menjual sosok SBY. Sedangkan pasangan JK-Wiranto cenderung menjual isu dibandingkan sosok, baik JK atau Wiranto.
Ada asumsi yang dapat dibangun disini melihat dua kecenderungan model kampanye di atas, yaitu pergerakan perubahan model kampanye dari yang menonjolkan figur pada model kampanye yang berbasis isu. Asumsi ini dibangun dari pergerakan hasil survei yang menunjukkan penurunan tingkat keterpilihan pasangan SBY-Boediono dan meningkatnya tingkat keterpilihan pasangan JK-Wiranto.
Lembaga Survei Indonesia pada awal Juni sempat merilis hasil survei yang menunjukkan tingkat keterpilihan pasangan SBY-Boediono 70%. Survei dari lembaga yang sama pada akhir Juni, tingkat keterpilihan SBY-Boediono menurun menjadi 63%. Penurunan tingkat keterpilihan SBY-Boediono ini diikuti kenaikan pasangan JK-Wiranto menjadi dua digit. Angka ini tampaknya juga sesuai dengan hasil quick count yang menunjukkan suara JK-Wiranto memperoleh suara dua digit. Jika pilpres dilaksanakan lebih lama lagi, bukan tidak mungkin pasangan JK-Wiranto dapat mengimbangi perolehan suara pasangan lainnya.
Perubahan preferensi pemilih Indonesia dari figur menuju isu menunjukkan semakin rasionalnya pemilih. Selama ini ada kritikan pemilih Indonesia tidak terlalu terpengaruh dengan isu atau program yang diusung calon presiden. Mereka lebih melihat figur dan cenderung mendukung sosok yang dicitrakan terzalimi atau korban. Pemilih di Indonesia disebut sangat menggandrungi melodrama dimana siapa yang bisa menciptakan “tangisan atau keharuan” dialah yang dapat merebut hati pemilih.
Kita dapat berharap saat pemilu lima tahun ke depan kampanye pemilihan presiden akan didominasi oleh perdebatan tentang isu atau pertarungan progra. Kemungkinan ini semakin kuat dengan semakin meningkatnya terpaan teknologi komunikasi. Bagi kandidat yang akan maju dalam Pilpres 2014 tampaknya sudah harus mempersiapkan progra-program untuk menarik hati pemilih. Kandidat sebaiknya tidak lagi berusaha menjual figur atau mengembangkan melodrama dirinya.***