| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Ruhut Sitompul, S.H. lahir di Medan, Sumatera Utara, 24 Maret 1954 dari pasangan Humala Sitompul dan Surtani Panggabean. Ia merupakan lulusan di Fakultas Hukum, Universitas Padjajaran, Bandung pada 1979. Ruhut menjadi satu dari dua orang yang lulus kuliah hukum hanya dalam waktu empat tahun. Karier Ruhut sebagai pengacara pun melejit dengan cepat. Hal ini karena ia termasuk sosok pengacara yang siap menangani kasus-kasus yang berbau kontroversial dan kurang populer di masyarakat. Ruhut juga pernah menjadi salah satu tim pengacara yang membela Akbar Tanjung dalam kasus korupsi di Badan Logistik (Bulog) atau yang lebih dikenal Bulog Gate. Ruhut juga menjadi salah satu pengacara yang aktif membela yayasan milik mantan Presiden Soeharto saat semua orang menghujat Orde Baru.
Ruhut Sitompul memang pengacara yang bisa menggunakan situasi. Selain bidang pengacara yang ia rambah, sinetron pun menjadi lahan berikutnya yang dilihat Ruhut sebagai media efektif untuk meraih popularitas. Beberapa sinetron pernah ia bintangi, seperti sinetron Gerhana, Anak Ibuku, Taman Mertua Indah, dan James Bono. Selain itu, Ruhut juga kerap menjadi bintang tamu di banyak program humor dari Ngelaba, Asep Show, sampai Ketoprak Humor.
Sementara itu karir politik Ruhut Sitompul ditapakinya sewaktu dia menjadi Ketua Biro Pendidikan dan Kaderisasi KNPI Dati I DKI Jaya, periode 1982-1985 dan kemudian berturut-turut menjadi Wakil Sekretaris Golkar Dati II, Jakarta Selatan periode 1984-1985, Ketua Biro Pendidikan dan Kursus-Kursus Golkar Dati I DKI Jaya, periode 1989-1994, dan Wakil Ketua Presidium DPP Pemuda Pancasila periode 1996-2001.
Berkiprah di Partai Golkar, Ruhut menjadi pendukung loyal Akbar Tandjung yang akhirnya kalah dalam perebutan kursi ketua umum Partai Golkar, yang waktu itu diraih oleh Jusuf Kalla yang juga Wakil Presiden. Kalahnya kubu Akbar Tandjung dalam perebutan posisi Ketua Umum Partai Golkar membuat kubu loyalis Akbar di tubuh Partai Golkar pun mulai banyak yang menyebrang ke partai lain dan tersingkir dari struktur partai.
Ruhut Sitompul menjadi salah satu yang menyebrang ke partai lain, yaitu Partai Demokrat. Di tubuh partai berlambang mercy ini, karir politiknya pun semakin cemerlang seiring jabatan strategis yang diraih Ruhut seperti menjadi salah satu Ketua DPP Partai Demokrat. Di partai ini pun, Ruhut menjadi salah satu anggota tim Sembilan yang tugasnya membuat kriteria dan memilih pasangan tepat untuk mendampingi SBY dalam kompetisi Pilpres 2009. Latar belakang kedekatannya dengan Akbar Tandjung, membuat Ruhut menjadi mediator yang aktif antara SBY-Akbar Tandjung, ketika SBY sibuk mencari cawapres.
Dalam susunan tim sukses formal yang dikirim Partai Demokrat dan koalisinya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ruhut mendapat tanggung jawab sebagai Penanggung Jawab Koordinator Wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau.
Kecemerlangan karir politik Ruhut “Poltak” Sitompul ini tanpa disengaja dikotori oleh statemennya yang mengatakan bahwa etnis Arab tidak memiliki kontribusi dalam pembangunan negeri ini. Sontak, pernyataan Ruhut dala sebuah talk show sebuah stasiun televisi swasta ini pun menuai respon negatif. Atas pernyataan ini, Ruhut oleh internal partai dituntut untuk meminta maaf atas ucapanya tersebut, sementara kalangan eksternal partai seperti organisasi keturunan Arab di Indonesia meminta Partai Demokrat memecat politikus nyentrik ini.
Terdengar kabar Partai Demokrat merespon tuntutan agar memberi sanksi kepada Ruhut dengan mencoretnya dari keanggotaan tim sukses SBY-Boediono. Tetapi dalam laporan yang dilansir KPU tersebut masih bertengger nama Ruhut Sitompul dengan jabatan sebagai Anggota Sub Koordinator Kampanye dengan nomor urut 17 di tim sukses SBY-Boediono.***