Skip to content

Jejak Cendana di Tim Sukses Pasangan Capres

 
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Dalam tiap pasangan capres – cawapres selalu ada figur militernya, entah sebagai capres atau cawapres. Oleh karenanya wajar, bila dalam tim suksesnya terdapat wajah-wajah purnawirawan pula, wajah-wajah yang sebenarnya tidak asing lagi. Sehingga dalam pembicaraan sehari-hari, muncul pula jargon-jargon berbau militer: seperti operasi intelijen, kontra intelijen, serangan udara (kampanye lewat media), serangan darat (kampanye langsung), dan seterusnya

Dari nama-nama purnawirawan yang kini tersebar dalam tim sukses capres, setidaknya ditemukan dua fenomena yang mengemuka. Dua fenomena dimaksud adalah: pertama, kedekatan dengan Cendana (Soeharto) di masa lalu. Kedua, ikatan berdasarkan korps atau asal-usul satuan.

Lingkaran Cendana terutama berkumpul di Tim Sukses JK – Wiranto dan Megawati – Prabowo. Mengapa bisa begitu? Tentu saja, karena Wiranto dan Prabowo pada dasarnya adalah inti dari lingkaran Cendana itu sendiri, yang kemudian menjadi gerbong bagi purnawirawan yang lain. Jenderal (Purn) Soebagyo HS misalnya, tak ada yang meragukan bahwa dia memang mantan orang dekat Soeharto. Selama bertahun-tahun Soebagyo menjadi Komandan Grup A Paspampres, yang secara fisik harus selalu dekat dengan Soeharto.Yang menarik untuk dicermati adalah, mengapa Soebagyo kemudian lebih memilih bergabung dengan Wiranto, bukan ke Prabowo.

Titik balik terjadi pada tahun 1998, saat Prabowo harus menghadapi sidang DKP (Dewan Kehormatan Perwira), karena kasus penculikan aktivis. Jenderal Soebagyo HS (yang saat itu juga menjabat KSAD) ditunjuk sebagai Ketua DKP, di mana pada akhirnya DKP mengeluarkan rekomendasi yang menyakitkan bagi Prabowo, dia harus pensiun dini dari TNI. Keputusan DKP seolah sebagai penanda, berpisahnya Prabowo dengan perwira-perwira yang selama ini dekat dengan Soeharto. Prabowo seolah ditinggal sendirian, hanya Mayjen (Purn) Muchdi PR (penggantinya sebagai Danjen Kopassus) yang terlihat masih setia, hingga sama-sama mendirikan Partai gerindra.

Ini juga soal senioritas. Kebetulan seluruh anggota DKP (termasuk Soebagyo) adalah senior Prabowo di Akmil, yang merasa gengsi bila harus bergabung dengan Prabowo. Itu sebabnya Soebagyo lebih memilih bergabung dengan Wiranto dalam Hanura, karena Wiranto adalah seniornya di Akmil, Wiranto lulusan 1968, sementara Soebagyo adalah lulusan 1970. Pengurus inti Hanura yang lain, bila dari unsur militer, umumnya juga yunior Wiranto, seperti Jenderal (Purn) Fachrul Razi (1970) dan Letjen (Purn) Suaidi Marassabessy 1971). Kebetulan Wiranto, bersama Soebagyo dan Facrul Razi, pernah sekelas saat Seskoad dulu (1983-1984), di mana Wiranto keluar sebagai lulusan terbaik.

Satu hal yang bisa dikatakan, terpecahnya lingkaran Cendana, dalam berbagai tim sukses, semata-mata lebih karena soal like and dislike, bukan karena alasan ideologis. Dalam soal keterkaitan dengan Cendana, posisi SBY lebih baik, dalam arti sedikit berjarak dengan Soeharto, setidaknya bila dibandingkan Wiranto dan Prabowo. Status SBY sebagai menantu Jenderal Sarwo Edhi, bisa menjelaskan hal itu. Kita ingat Sarwo Edhi termasuk jenderal yang paling awal disingkirkan Soeharto, saat Orde Baru baru saja terkonsolidasi.

Wacana yang juga menarik adalah track record saat masih aktif di tentara dulu. Khususnya pada saat mereka berpangkat Letda hingga Kolonel, karena pada periode inilah, kecakapan seorang perwira sebagai prajurit tempur sejati benar-benar diuji.

Tentang pengalaman lapangan, secara umum, SBY berimbang dengan Prabowo. Mengapa demikian? Karena sejak awal karirnya sebagai perwira, SBY maupun Prabowo bertugas pada kesatuan terbaik di lingkungan TNI-AD. SBY di Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad (Cijantung, Jaktim), dan Prabowo di Kopassus. Demikian melegendanya satuan tersebut, hingga satuan ini sering dijadikan rujukan bagi perwira-perwira muda (Letda) yang baru lulus dari Akmil Magelang, khususnya dari kecabangan infanteri. Brigif 17 sendiri membawahi tiga bataliyon: Yonif Linud 305/Tengkorak (Karawang), Yonif Lunud 328/Dirgahayu (Cilodong, Bogor) dan Yonif Linud 330/ Tri Dharma (Cicalengka, Bandung).

Saat lulus sebagai perwira di angkatannya (Akmil 1973), SBY muncul sebagai lulusan terbaik. Sebagai lulusan terbaik, SBY memiliki opsi, bisa memilih pada satuan mana ia ingin ditempatkan. Dan SBY memilih ditempatkan di lingkungan Brigif 17, sebagai Komandan Peleton di Yonif 305. Hingga pada suatu saat (1993), SBY berkesempatan pula memimpin satuan ini, sebagai Komandan Brigade 17.

Dalam peta elit tentara, sepertinya tidak ada satuan lain, yang kontribusinya demikian besar, sebagaimana Brigif 17 dan Kopassus. Satuan ini ibarat lahan persemaian bagi calon pemimpin TNI (khususnya AD) di masa depan. Karena perwira-perwira yang masuk eselon pimpinan TNI, pada umumnya pernah berdinas di sana. Selain rasa bangga karena bergabung pada satuan legendaris, kebersamaan saat bertugas di berbagai medan laga, turut membangun ikatan emosional di antara anggotanya, hingga jauh di kemudian hari, saat mereka tidak lagi berdinas pada satuan ini. Di antara perwira yang pernah berdinas pada satuan ini, telah terbentuk ikatan, semacam rumpun atau linkage eks anggota Brigif 17. Ikatan khusus di antara mantan anggota Brigif 17, telah mengingatkan kita pada ikatan kultural yang dulu sempat mewarnai sejarah TNI-AD, seperti Rumpun Siliwangi dan Rumpun Diponegoro.

Prabowo sendiri pernah pula berdinas di Brigif 17, namun tidak pernah berjumpa langsung dengan SBY. Saat Prabowo menjadi Wadanyon 328, kemudian berlanjut sebagai Danyon 328, pada saat yang hampir bersamaan SBY menjadi Danyon 744 di Timtim. Pos terakhir Prabowo di Brigif 17, adalah sebagai Kasbrig, saat Komandan Brigif dijabat oleh Kol Inf Soegiono (yang kemudian menggantikan Wiranto, sebagai ajudan Soeharto)

Selain SBY dan Prabowo, figur penting lain yang sempat berdinas di satuan tersebut antara lain adalah: Jend (Purn) E Sutarto (mantan Kasbrig 17), Jend (Purn) Ryamizard (Danyon 305, Danbrig 17), Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso (Danyon 330), dan KSAD Jenderal Agustadi (Danton di Yonif 328). Termasuk dua purnawirawan, yang kini menjadi anggota tim sukses Wiranto: Letjen Purn Suadi Marassabessy (mantan Kasi 2/Ops Yonif 328), dan Jend Purn Fachrul Razi (mantan Kasi 1/Intel Yonif 305). Satu nama lagi yang perlu disebut adalah Letjen TNI Purn Agus Wijoyo, mantan Danyon 328 dan Danbrig 17, yang kini masuk dalam formasi tim sukses SBY.

Gambaran di atas juga untuk menjelaskan, bagaimana mengakarnya perwira-perwira eks Brigif 17, dibandingkan perwira lain yang sama sekali tidak pernah bertugas pada satuan ini. Inilah yang terjadi pada Wiranto. Wiranto secara kebetulan tidak pernah berdinas di Brigif 17. Memang Wiranto sempat bertugas Brigif Linud 18/Trisula Kostrad (Malang), sebagai Kasi 2/Ops (1976 – 1979). Di lingkungan Kostrad, Brigif 18 sejak lama dikenal sebagai satuan “pesaing” Brigif 17. Salah satu mantan Komandan Brigif 18, adalah Mayjen (Purn) Theo Sjafei (Akmil 1965), yang kini menjadi Ketua Tim sukses pasangan Megawati – Prabowo. Artinya, jaringan eks Brigif 17 lebih luas.

Namun masa penugasan Wiranto yang terhitung singkat di Brigif 18, tidak memberi waktu yang cukup bagi Wiranto, untuk membangun jaringannya sendiri. Termasuk ketika Wiranto kembali ke Kostrad beberapa waktu kemudian, sebagai Kastaf Brigif 9 di Jember (1985).

Penugasan Wiranto sebagai ajudan Presiden Suharto, sekitar empat tahun (1989 – 1993), acapkali dianggap sebagai “tahun emas” Wiranto. Karena pada posisi inilah, terjalin kedekatan dengan Pak Harto, yang menghantarkan dirinya untuk meraih posisi dan pangkat tinggi, dalam tempo cepat. Namun di sisi lain, Wiranto berarti juga kehilangan waktu 4 tahun untuk membangun jaringan di kalangan perwira yang sebaya dengan dirinya, dan generasi di bawahnya. Sifat penugasannya yang hanya berkutat di seputar Istana, menjadikan Wiranto kehilangan waktu untuk konsolidasi di “lapangan”.***