| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Dalam lingkaran trah keluarga Djojohadikusumo, Hashim merupakan satu-satunya yang mewarisi kepiawaian ayah dan kakeknya dalam berbisnis. Ayah Hashim adalah begawan ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang juga merupakan arsitektur ekonomi Orde Baru, sedangkan kakeknya Margono Djojohadikusumo yang tak lain adalah pendiri Bank BNI 1946.
Riwayat pendidikan Hashim lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Seusai menamatkan pendidikan SD di Jakarta, Hashim langsung melanjutkan pendidikannya di Quintin Grammar School (setingkat SMP), London, Inggris. Setamat dari sana, tahun 1969, Hashim meneruskan ke Singapore American School (setingkat SMA) di Singapura. Setelah itu, Hashim terbang ke Amerika Serikat, menimba ilmu politik dan ekonomi di Panoma College, Claremont, California, hingga menyabet gelar sarjana muda tahun 1976.
Ketika Soemitro Djojohadikusumo menjabat sebagai menteri pada masa Orde Baru, Hashim diberi dua tawaran, posisi tinggi di perusahaan milik keluarga atau melanjutkan pendidikan masternya. Hashim menampik dua tawaran tersebut, dan lebih memilih untuk magang di sebuah bank investasi di Perancis yaitu Lazard Freres Et Cie sebagai analis keuangan.
Dari sinilah naluri berbisnis Hashim mulai muncul dan terasah. Ketika ayahnya sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri, Hashim kembali ke Indonesia dan langsung menempati posisi sebagai direktur di Indo Consult, yang merupakan perusahaan milik ayahnya.
Perkembangan bisnis Hashim pun semakin maju, sehingga pada tahun 1988 dia mulai mengakuisisi PT Semen Cibinong lewat perusahaannya PT Tirta Mas. Selain memiliki PT Semen Cibinong, lewat kelompok usahanya Hashim juga memiliki saham di Bank Niaga dan Bank Kredit Asia. Ketika Indonesia dihantam krisis pada tahun 1997, usaha Hashim banyak yang berguguran. Hashim pun masuk dalam daftar pengusaha pengemplang dana obligasi BPPN senilai Rp. 5,37 trilyun.
Untuk menyelamatkan yang masih tersisa, Hashim pun memindahkan usahanya ke luar negeri salah satunya adalah Inggris. Di negara Margareth Tatcher ini. Hashim tinggal 9 tahun untuk fokus mengurusi bisnisnya. Di bawah bendera Nations Energy yang didirikannya, Hashim mengendalikan sejumlah bisnis kompetitif di negara-negara seperti Kazahkstan, Inggris, Kanada, Yordania. Khusus di Yordania, jaringan bisnis Hashim diberi keistimewaan oleh pihak istana berkat jalinan pertemanan Prabowo dengan putra mahkota.
Pada Oktober 2006 Hashim menjual Nations Energy kepada Citic Group, sebuah perusahaan energi asal China. Sebenarnya, proses penjualan ini telah dimulai sejak Juni 2006. Tercatat perusahaan asal India dan Rusia ikut menawar Nations Energy dari Hashim. Pada akhirnya, Hashim melego perusahaannya kepada Citic Group dengan nilai US$ 1,91 miliar atau setara Rp 17,2 triliun lebih.
Setelah menjual Nations Energy, Hashim berniat kembali ke Indonesia sekaligus menyelamatkan perusahaan milik Prabowo Kiani Kertas. Pada tahun 2006, perusahaan ini sedang terlilit utang di Bank Mandiri senilai Rp 1,9 triliun. Hashim membayar utang Kiani Kertas ke Bank Mandiri menggunakan pundi-pundi keuangannya lewat sebuah lembaga keuangan Merryl Linch.
Pelunasan utang Kiani Kertas tersebut sekaligus memindahkan kepemilikannya dari semula milik taipan Bob Hasan, menjadi seutuhnya milik Hashim dan Prabowo. Lewat Kiani Group juga, Hashim menguasai konsesi lahan hutan seluas 97 hektare yang tersebar sepanjang Aceh Tengah.
Tidak hanya itu, Hashim juga disinyalir memiliki konsesi lahan hutan di Kalimantan Timur lebih dari 1 juta hektare yang meliputi lahan hutan dan tambang batu bara. Tak puas dengan apa yang sudah diraihnya, Hashim berniat kembali untuk membuka 800 ribu hektare kebun aren. Sontak saja, rencana Hashim ini mendapat kritikan banyak pihak karena langkah sebelumnya juga sudah banyak merusak kelestarian lingkungan hutan.
Bila ditotal secara keseluruhan, bisnis keluarga Djojohadikusumo ini sudah memiliki lebih dari tiga juta hektar perkebunan, konsesi hutan, tambang batubara dan ladang migas dari Aceh sampai ke Papua, dan masih berencana membuka 1,5 juta hektar lagi di Kaltim dan Merauke.
Dengan kepemilikan sejumlah aset di banyak perusahaan Globe Asia menobatkan Hashim Djojohadikusumo dalam urutan sepuluh besar orang terkaya di Asia dengan taksiran kekayaan sebesar US$ 850 juta atau sekitar Rp 8,5 triliun.
Pertengahan 2007, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita keterlibatan Hashim Djojohadikusumo dalam kasus pencurian arca milik museum Radya Pustaka Surakarta. Dalam kejadian tersebut, arca milik keraton yang dititipkan ke museum hilang sebanyak enam arca. Setelah diusut, ternyata pihak kepolisian menemukan keenam arca yang hilang tersebut di sebuah rumah milik Hashim Djojohadikusumo di bilangan Kemang.
Kepolisian pun menyatakan Hashim sebagai tersangka dalam kasus kepemilikan sejumlah arca secara tidak sah, dan terancam hukuman penjara. Walau pun terlibat dalam kasus kepemilikan arca secara tidak sah, namun pengadilan memutuskan Hashim Djojohadikusumo tidak bersalah dan dinyatakan bebas.
Selain dikenal sebagai pengusaha, Hashim juga merupakan Dewan Pembina Partai Gerindra. Ketika wacana menduetkan Mega-Prabowo menguat, Hashim merupakan orang yang tidak menghendaki koalisi tersebut. PDI-Perjuangan bersama Prabowo sampai membuat tim khusus untuk melobinya agar memberikan restu pada koalisi Mega-Parbowo untuk maju dalam Piplres 2009.
Pantas saja bila Hashim bersikap seperti itu. Dengan kekuatan dana dan prestige kapitalis yang dimilikinya, ia bisa saja membuat tim sukses Mega-Prabowo tidak berkutik. Bersama Taufik Kiemas, Hashim duduk sebagai penasihat Tim Sukses Resmi yang didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Keterlibatan Hashim dalam politik banyak dicurigai akan mengotori idealisme politik dengan kapitalisme. Dengan terbuka kepada media, Hashim mengakui bangga menjadi seorang kapitalis. Tentu kapitalis yang dimaksud Hashim adalah kapitalis bermoral yang banyak mementingkan kepentingan masyarakat dengan kekuatan kapitalnya.
Bersama Prabowo, Hashim juga sering dikaitkan dengan latar belakang keluarganya yang memiliki rekam jejak kurang bagus. Ayah Hashim misalnya, sebelum menjadi menteri dan arsitek ekonomi Orde Baru adalah seorang pemberontak dan aktifis PRRI-Permesta dan sempat menjadi buronan pemerintah.
Namun atas kebijakan Soeharto yang pada saat itu membutuhkan orang yang bisa memperbaiki perekonomian dengan rumus-rumus ekonomi modern, Soemitro Djojohadikusumo pun dimaafkan dan dipanggil untuk bergabung di pemerintahan.***