Skip to content

Dominasi Angkatan 1965 dalam Tim Sukses

 
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Dalam setiap tim sukses calon presiden, selalu ada figur militer, bahkan posisi mereka sangat menentukan di tim sukses masing-masing, seperti Mayjen (Purn) Theo Sjafei (Mega – Prabowo), Marsekal Madya (Purn) Basri Sidehabi (JK – Wiranto) dan Marsekal (Purn) Djoko Suyanto (SBY – Boediono). Dalam semua tim sukses, mereka berperan sebagai “koti” (komando tertinggi). Dilihat dari segi asal-usul, mereka berasal dari berbagai matra, termasuk dari unsur purnawirawan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), meskipun tetap saja matra darat yang dominan. Juga beragam bila berdasar dari tahun kelulusan Akademi TNI.

Dilihat dari tahun kelulusan di Akademi TNI (khususnya Akademi Militer/Akmil), rentang generasinya lumayan panjang, yang paling senior adalah Angkatan 1965 (sepertiTheo Sjafei) hingga generasi yang lebih muda, yaitu lulusan Akmil 1973. Angkatan 1973 sudah bisa masuk dalam jajaran tim sukses, bahkan menjadi capres (seperti SBY) atau cawapres (Prabowo), karena lulusan Angkatan 1973 sudah “bersih”, artinya semuanya sudah purnawirawan, tidak ada yang aktif lagi. Salah satu alumnusnya yang tercatat paling akhir memasuki masa purnawirawan adalah Letjen TNI (Purn) Cornel Simbolon, yang sekitar setahun lalu masih menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan darat (Wakasad), kini telah bergabung pula dalam tim sukses SBY-Boediono. Memang ada lulusan Akmil 1974 yang sudah pensiun, yaitu Mayjen (Purn) Iwan R Sulanjana (terakhir Pangdam Siliwangi), yang merupakan Ketua Partai Demokrat Jawa Barat, yang artinya juga bisa dianggap anggota tim sukses SBY-Boediono.

Namun populasi purnawirawan asal 1974, belum sebanyak Angkatan 1973, dengan kata lain yang menjadi tim sukses juga belum sebanyak – bahkan jauh dibanding – Angkatan 1973.

Sebagai awak tim sukses, peran Angkatan 1965 seperti belum tergantikan, meski usia rata-rata eksponennya sudah hampir berkepala tujuh, pemikiran dan energi mereka masih digunakan. Dan, periode sekarang adalah kali yang kedua, karena pada Pemilu Presiden 2004 mereka juga sudah berperan seperti sekarang. Pada 2004, Theo Sjafei sudah dalam posisi itu, yakni “komandan” tim sukses Megawati-Hasyim Muzadi (saat itu). Kemudian Letjen (Purn) M Maruf sebagai “komandan” di tim sukses SBY-JK. Kemudian dalam pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar terdapat nama Letjen (Purn) Yunus Yosfiah. Sebagaimana kita tahu, M. Maruf sempat masuk dalam kabinet Presiden SBY sebagai Mendagri, hanya karena alasan kesehatan, dia digantikan oleh Mayjen TNI (Purn) Mardiyanto (Akmil 1970), tentu ini bisa dibaca sebagai bentuk “balas budi” SBY terhadap Maruf.

Kini dalam Pilpres 2009, nama-nama Angkatan 1965 masih muncul, dan lagi-lagi – mengulang Pilpres 2004 – masih dalam posisi menentukan. Di tim sukses SBY misalnya, meski nama Maruf tidak lagi muncul, namun masih ada nama Mayjen (Purn) Achdari, Letjen (Purn) Soeyono (mantan Kepala Staf Umum/Kasum ABRI/TNI), dan Mayjen (Purn) Syamsir Siregar (Kepala Badan Intelijen Negara/BIN). Khusus tentang Syamsir Siregar, memang secara resmi namanya tidak akan tercantum dalam tim sukses karena masih menjabat sebagai Kepala BIN, tapi semua orang tahu, pihak mana yang paling diuntungkan oleh Syamsir.

Kubu SBY-Boediono pernah mengklaim, mereka telah menyiapkan semacam operasi intelijen untuk memenangkan pilpres. Klaim mereka bisa dimengerti, karena keberadaan figur Mayjen (Purn) Achdari, selain Syamsir Siregar. Saat masih aktif dulu, sebagian besar karirnya dihabiskan di bidang intelijen, di antaranya pernah menjabat sebagai Direktur C Bais ABRI/TNI. Achdari yang sering disebut-sebut sebagai arsitek operasi intelijen kubu SBY selama ini. Tampaknya Achdari adalah figur intelijen sejati, karena sosoknya nyaris tak dikenali, wajahnya tak pernah muncul di media cetak maupun elektronik. Baru-baru ini saja namanya disebut-sebut media, sehubungan dengan posisinya sebagai Komisaris di Perum Peruri, di mana seorang komisaris BUMN dilarang masuk dalam tim sukses.

Pada 2004 juga terdapat nama Mayjen TNI (Purn) Haris Sudarno (mantan Pangdam V Brawijaya) dalam tim sukses SBY, yang kini tak muncul lagi. Namun telah muncul wajah baru asal Angkatan 1965 pula, yaitu Letjen TNI (Purn) Soeyono. Sehari-hari jabatannya adalah Ketua Umum MKGR, bila dilihat dari sejarah MKGR, seharusnya Soeyono bergabung dalam tim sukses JK-Wiranto, karena MKGR adalah ormas pendiri Golkar di masa Orde Baru dulu. Namun ini adalah persoalan politis semata, yang acapkali faktor sejarah tidak dijadikan pertimbangan, yang dijadikan fokus adalah memburu kekuasaan, dan kalau bisa diraih dengan mudah dan dalam tempo singkat. Tentu Soeyono sudah memiliki perhitungan, dengan “menumpang” SBY-Boediono, kekuasaan terasa lebih mudah diraih, mengingat prospek kemenangan pasangan SBY-Boediono cukup besar. ***