Skip to content

Djoko Suyanto dan Basri Sidehabi dua Purnawirawan Marsekal TNI AU yang “Landing” di Tim-Tim Sukses Capres

 
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Dalam Pilpres 2009 ini, ada fenomena menarik, di mana figur purnawirawan AU masuk dalam daftar tim sukses, bahkan menempati posisi strategis. Selama ini yang biasanya paling giat dalam politik praktis di masa pensiun, adalah purnawirawan asal AD, seperti satu capres dan dua wapres yang maju kali ini. Bahkan purnawirawan AU yang masuk tim sukses tersebut, sebagian di antaranya adalah figur terkenal.

Purnawirawan AU yang dimaksud “turun gunung” menjadi tim sukses, adalah Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto dan Marsdya TNI (Purn) M Basri Sidehabi. Nama Djoko Suyanto tentu tidak asing lagi, karena pernah menjabat sebagai KSAU dan Panglima TNI. Kini Djoko Suyanto menempati posisi kunci dalam tim sukses pasangan SBY – Boediono. Djoko Suyanto awalnya adalah “Komandan” dari seluruh tim-tim sukses di bawah Partai Demokrat. Setelah SBY resmi menggandeng Boediono, yang ditunjuk sebagai Ketua tim sukses pasangan tersebut adalah Hatta Rajasa (Mensesneg), sementara Djoko Suyanto ditetapkan sebagai Wakil Ketua.

Sementara Marsdya TNI (Purn) Basri Sidehabi masuk dalam tim sukses pasangan JK – Win, tepatnya sebagai Ketua Tim Garuda. Bahkan di tim sukses JK – Win, selain Basri Sidehabi, juga ada nama purnawirawan AU lain, yaitu Marsdya TNI (Purn) Alimunsiri Rappe (terakhir Wakil KSAU). Kalau kita perhatikan daerah asal Basri Sidehabi dan Alimunsiri Rappe, yaitu Sulawesi Selatan, tampaknya memang ada ikatan primordial dengan capres Jusuf Kalla. Begitu pula yang terjadi dengan Djoko Suyanto dengan SBY, yang kebetulan sama-sama dari Jawa Timur. Tapi tampaknya, yang lebih kuat adalah ikatan sesama lulusan Akabri 1973.

Meski kini harus berpisah, karena alasan “politis”, tapi antara Djoko Suyanto dan Basri Sidehabi sebenarnya berasal dari sumber yang sama, yaitu Pangkalan Udara Iswahjudi (Madiun), home base bagi para penerbang tempur (fighter) TNI AU. Benar, keduanya sama-sama fighter yang sangat menonjol di generasinya. Hanya Basri sedikit lebih unggul, kalau boleh dikatakan begitu, karena Basri sempat merasakan kecanggihan F-16. Karena Basri (bersama Marsdya Purn Wartoyo, mantan Wakil KSAU), adalah penerbang AU yang langsung belajar di AS, untuk mengoperasikan F-16, di awal 1990-an.

Namun untuk jenis pesawat tempur lain, Basri dan Djoko senantiasa berjumpa. Pada jenis F-5 Tiger (Skadron 14) misalnya, saat masih aktif dulu masing-masing dari mereka memiliki call sign: Eagle 10 (untuk Djoko Suyanto) dan Eagle 12 (untuk Basri). Kemudian untuk jenis A-4 Skyhawk, call sign untuk Djoko adalah Thunder 35, dan Basri (Thunder 49). Keduanya juga sempat sama-sama mengawaki F-86 Sabre, jenis pesawat yang kini telah berakhir riwayatnya.

Mereka juga pernah menjadi Komandan Skadron, Djoko Suyanto sebagai Komandan Skadron 14 (1990-1992), sementara Basri sebagai Komandan Skadron 3 (F-16, 1992-1994). Bahkan Djoko Suyanto sempat berlanjut hingga menjadi Komandan Lanud Iswahyudi (1997-1999). Sedang Basri sebelum mengkhiri tugas di TNI AU, jabatannya adalah Irjen TNI dan Komandan Sesko TNI.

Kini dalam pembicaraan sehari-hari berkaitan dengan kampanye capres-cawapres, ada metafora “perang udara”, yang maksudnya adalah kampanye lewat media cetak dan elektonik. Namun bagi Djoko dan Basri, sebagai sesama mantan figter, spirit perang udara di antara keduanya memang sedang terjadi, soal siapa yang menjadi pemenang, kita tunggu saja nanti. ***