Skip to content

Aroma Persaingan Alumni Akademi Militer Angkatan 1973 dan 1974 dalam Pemilu Presiden

 
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Generasi Akmil termuda yang sudah memasuki masa purnawiran adalah lulusan (Angkatan) 1973, praktis tidak ada yang tersiksa dari angkatan ini yang masih aktif. Tercatat nama Letjen TNI (Purn) Cornel Simbolon (mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat/KSAD) memasuki masa purna tugas, kini sudah masuk dalam jajaran tim
kampanye SBY-Boediono. Memang untuk terjun dalam kancah politik praktis, kalangan militer harus dalam status purnawirawan dulu. Seandainya masih dalam status dinas aktif, dan dari segi waktu belum saatnya pensiun, mau tidak mau dia harus mundur sebagai tentara, dengan cara mengajukan pensiun dini.

Bila Angkatan 1973 sudah tidak ada yang aktif, berbeda dengan generasi berikutnya, yaitu Angkatan 1974 dan 1975, yang umumnya masih berdinas aktif. Namun bila kita perhatikan, dari Angkatan 1974 dan 1975, sudah ada pula yang pensiun, hanya saja kurang terekspos.

Dari Angkatan 1975 misalnya, terdapat nama Mayjen (Purn) Adang Sonjaya (Staf Ahli Menteri Pertahanan) dan Mayjen (Purn) Tanribali Lamo (Dirjen di Depdagri). Dari Angkatan 1974, terdapat nama Jenderal (Purn) Ryamizard (mantan KSAD) dan Mayjen (Purn) Iwan Sulanjana (mantan Pangdam III/Siliwangi, kini Ketua Partai Demokrat Jawa Barat), selain cawapres Prabowo sendiri.

Menarik untuk diikuti, Pemilu Presiden kali ini menyiratkan aroma persaingan dari generasi yang sangat dekat, yaitu antara Angkatan 1973 dan Angkatan 1974. Salah satu fenomena yang menarik, dalam tim kampanye cawapres Prabowo (lulusan Akmil 1974), tidak ada figur purnawirawan yang berasal dari Angkatan 1973, entah kalau mendukungnya secara terselubung. Purnawirawan Angkatan 1973 umumnya berkumpul di kubu pasangan SBY-Boediono. Kecenderungan ini tidak dapat dipisahkan dari karakter figur yang mereka dukung, yaitu capres SBY dan cawapres Prabowo. Sebagaimana kita tahu, saat masih aktif dulu, keduanya bersaing dalam karir kemiliteran. Dalam meraih pangkat brigjen misalnya, waktunya hampir
bersamaan, SBY meraih satu bintang pada Nopember 1995, disusul Prabowo bulan berikutnya (Desember 2005).

Prabowo sendiri tampaknya sedikit problematik menghadapi Angkatan 1973. Karena Prabowo sendiri sebetulnya adalah bagian dari Angkatan 1973, meski lulusnya pada tahun 1974. Mengapa bisa demikian? Karena dalam tradisi Akmil (juga AAL dan AAU), yang disebut teman seangkatan, adalah teman yang bersama-sama saat masuk Akmil dulu, atau yang bersama-sama saat lulus. Prabowo bisa masuk bagian dari Angkatan 1973, karena saat masuk Akmil (1970), Prabowo bersama-sama dengan lulusan 1973, hanya karena sempat turun pangkat (mengulang) saat di Akmil, Prabowo tidak bisa dilantik bersama-sama sebagai perwira, namun baru tahun berikutnya. Itu sebabnya untuk kategorisasi Angkatan, Prabowo bisa masuk Angkatan 1973 maupun Angkatan 1974. Uniknya yang memiliki “nasib” seperti Prabowo, bukan hanya Prabowo,
namum ada beberapa, salah satunya adalah Jenderal (Purn) Ryamizard. Ryamizard juga bisa masuk Angkatan 1973 atau 1974.

Bila Angkatan 1973 umumnya berkumpul di sekitar SBY, mungkin juga karena kharisma SBY sejak di akademi dulu. SBY telah didaulat sebagai “kepala suku” atau lurah bagi seluruh eksponen Angkatan 1973. Tentu selain karena prestasi akademis dan prestasi selama berdinas, pembawaan pribadi SBY yang tenang dan berwibawa, yang menjadikan SBY memperoleh respek dari rekan-rekan seangkatannya sesama Angkatan 1973. Beberapa mantan Kepala Staf yang berasal dari angkatan 1973, secara resmi berada dalam tim kampanye SBY-Boediono, seperti Marsekal (Purn) Djoko Sujanto (mantan KSAU), Marsekal (Purn) Herman Prayitno (mantan KSAU) dan Jenderal Pol (Purn) Sutanto (mantan Kapolri). Dan lagi mereka ini menjadi orang nomor satu di matranya, tentu tidak lepas dari peran SBY selaku Presiden.

Ini kontras dengan pembawaan Prabowo, yang masih terlihat sampai sekarang, yaitu cenderung temperamental. Pembawaan itu mungkin juga karena latar belakang pendidikan dan keluarga yang jauh berbeda. Prabowo berasal dari keluarga elite negeri ini, dan memperoleh pendidikan kosmopolitan, karena mengikuti ayahnya (Prof Sumitro Djojohadikusumo) yang harus “berkelana” ke beberapa negara, seperti Inggris, Swis dan Singapura. Sementara SBY berasal dari keluarga sederhana, ayahnya Danramil di Pacitan, dan masa pertumbuhannya tidak sedramatis Prabowo. Karena perbedaan-perbedaan itu, tampaknya Angkatan 1973 merasa lebih nyaman bila berada di sekitar SBY, ketimbang bersama “adik kelas” mereka, cawapres Prabowo. Kecuali Letjen (Purn) M Yasin, yang jadi “kutu loncat”, tahun 2004 masuk tim sukses SBY, kini lebih mendukung kubu Prabowo. ***