Skip to content

Andi Arief: Pengkritik di Sarang Politik

 
JAKARTA [KANAlPEMILU.NET] -- Selain Budiman Sujatmiko, nama lain yang cukup menonjol dalam pergerakan mahasiswa dan ikut terlibat dalam tim sukses capres-cawapres dalam Pemilu 2009 adalah Andi Arief. Pria kelahiran Lampung ini adalah tim sukses SBY-Boediono. Dalam susunan Tim Sukses SBY-Boediono yang diajukan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), memang tidak ada nama Andi Arief. Begitu juga dengan jajaran BUMN yang diributkan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terlibat dalam tim sukses capres tertentu tidak ada nama Andi Arief. Tetapi bukan berarti Andi Arief tidak terlibat dalam proses pemenangan pasangan SBY-Boediono.

Kiprah Andi Arief dapat dirunut melalui organisasi Jaringan Nusantara (Jarnus/JN) dimana dia duduk sebagai Sekretaris Jenderalnya. Jarnus/JN dikenal sebagai salah satu organisasi yang mengawal berbagai kebijakan SBY, termasuk membelanya ketika banyak pihak yang mengkritik. Kekisruhan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang membuat legitimasi hasil pemilu berkurang misalnya, dianggap Andi bukan kecurangan pemerintah. Andi juga menuduh PDI-Perjuangan yang kerap menggunakan isu ini sebagai konsumsi politik dianggap sebagai pihak yang paling berkepentingan.

Lewat Jarnus juga, Andi banyak membela SBY dan menilai pemerintahannya berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Andi pun mengeluarkan berbagai data kenaikan tingkat ekonomi, salah satunya ditandai oleh naiknya ekspor.

Ketika pasangan SBY-Boediono dideklarasikan sebagai pasangan capres-cawapres, banyak kalangan menilai pasangan ini kurang ideal dan mencerminkan ideologi neoliberal, Andi malah melihat sebaliknya. Menurut Andi pasangan SBY-Boediono merupakan pilihan tepat untuk menghadapi krisis global.

Dalam banyak forum, Andi menjadi salah satu ”juru bicara” tak resmi yang mengkampanyekan bahwa pasangan SBY-Boediono akan memberi ketenangan kepada pasar sehingga akan berbuah pada perekonomian, terutama akan membangkitkan dan memajukan sektor riil yanmg akan menyerap banyak tenaga kerja.

Mengenai tudingan neoliberal terhadap Budiono, kata Andi, hal itu tidak benar. Sebab, di negeri maju sekalipun kebijakan neoliberal tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Apalagi di negeri berkembang seperti Indonesia. Menurut Andi, banyak orang berbicara neoliberalisme lebih sebagai isu ketimbang substantif.

Keterlibatan Andi Arief dengan SBY disebut-sebut dimulai sejak SBY menjabat sebagai Danrem di Yogya pada 1995. Andi Arief sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan mahasiswa di sana. Mahasiswa Fisipol UGM ini mendirikan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan menjadi ketua umumnya. SMID adalah cikal-bakal dari Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Di organisasi SMID, Andi menjadi orang yang sangat kritis dan lantang menggugat kesewenang-wenangan pemerintah dalam menjalankan kebijakannya. Kritik dan gugatan Andi dipandang pemerintah sebagai tindakan yang membahayakan stabilitas, akibatnya ia bersama rekan-rekannya seperti Budiman Sudjatmiko, Haryanto Taslam, Raharjo Waluyo Jati, Aan Rusdianto, Dedi Hamdun, dan lainnya disekap karena dinilai membahayakan. Peristiwa penculikan terhadap beberapa aktivis ini pun kemudian menjadi peristiwa politik yang ber-magnitute, sehingga mendapat perhatian masyarakat luas.

Setelah SBY naik ke kursi presiden melalui Pemilu 2004, Andi Arief kemudian diangkat sebagai Komisaris PT Pos Indonesia. Keputusan Andi Arief ini disayangkan oleh dosennya saat di UGM, almarhum Prof Riswandha Imawan. Pak Ris menganggap Andi Arief silau dengan kekuasaan. Namun, Andi berdalih dan punya alasan mengapa berubah sikap dari pengkritik menjadi bagian dari pemerintah yang berkuasa. Andi menggambarkan SBY sebagai pemerintahan yang demokratis, beda dengan pemeritahan sebelumnya yang diktator.

Andi juga pernah maju sebagai calon wakil gubernur dalam pilkada Lampung mendampingi Prof Dr Ir Muhajir Utomo MSc, mantan rektor Universitas Lampung (Unila) sebagai calon gubernurnya. Mereka berdua maju dari jalur perseorangan (independen) sebab tidak ada partai politik yang mencalonkan mereka berdua. Tapi keberuntungan tak berpihak pada mereka.

Ketika banyak pihak ramai menggunjingkan mengenai keterlibatannya sebagai relawan SBY-Boediono, sementara ia berada dalam posisi salah satu komisaris perusahaan milik publik. Andi pun terpaksa mengundurkan diri dari jajaran komisaris PT Pos Indonesia. Andi pun membantah banyak pihak yang menuduhnya bahwa ia merupakan salah satu tim sukses SBY-Boediono. Menurutnya, ia dan Jarnus memposisikan diri sebagai relawan yang mendukung sikap tegas SBY selama menjabat sebagai presiden. Sikap Andi ini dipandang sebagai langkah strategis sehingga membuat dirinya leluasa bergerak untuk memenangkan SBY-Boediono.***