| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Dalam salah satu iklan kampanye pasangan JK-Win, Ahmad Syafi'i Ma'arif tampil dengan penuh meyakinkan. Tokoh bangsa yang kerap dipanggil Buya Syafi'i ini dengan singkat namun penuh makna mengatakan Jusuf Kalla dengan sebutan The Real President. Kata-kata kutipan dari Buya Syafi'i tersebut sebenarnya muncul pada Nopember 2008. Buya Syafi'i juga menyebut Jusuf Kalla sebagai pemimpin masa depan dan sebentar lagi hal itu akan terjadi.
Keberhasilan pemerintah dalam mewujudkan perdamaian di Nanggroe Aceh Darussalam, Poso atau keberhasilan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) semuanya tidak lepas dari “otak” Jusuf Kalla. Meski tidak popular, menurutnya Jusuf Kalla memiliki tipikal pemimpin yang dibutuhkan Indonesia.
Pernyataan mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah tersebut melahirkan polemik di masyarakat, salah satunya adalah munculnya ketegangan antara SBY-JK yang pada waktu itu belum menjadi calon presiden yang diusung oleh partainya masing-masing. Kata-kata tokoh bangsa ini juga dinilai banyak pihak blunder karena mencerminkan adanya dukungan terhadap salah satu capres tertentu.
Mungkin Buya Syafi'i memiliki alasan sendiri mengapa dia mengatakan Jusuf Kalla sebagai The Real President, sehingga dia tidak mepedulikan adanya polemik akibat ucapannya tersebut. “Kecurigaan” adanya dukungan Buya Syafi'i terhadap Jusuf Kalla semakin menguat ketika Buya Syafi'i memberi angka delapan untuk menilai jawaban-jawaban Jusuf Kalla-Wiranto ketika pemaparan visi misinya terkait kebudayaan yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta. Buya menilai program yang dimiliki oleh pasangan ini sangat bagus dan sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia.
Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar dan Tim Sukses Jusuf Kalla-Wiranto mungkin tidak mau melepaskan kesempatan emas ini, mengingat di kalangan Muhammadiyah Buya Syafi'i merupakan salah satu tokoh yang disegani selain Amien Rais. Bukan hanya di kalangan Muhammadiyah, di kalangan Nahdliyin Buya Syafi'i juga memiliki kharisma sendiri. Masih kuat dalam ingatan kita ketika Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berseteru dengan tokoh Muhammadiyah Amien Rais, dan Buya Syafi'i waktu itu menjadi mediator dengan mengatakan Amien Rais terlalu emosional.
Kata-kata Buya Syafi'i yang mengatakan Jusuf Kalla The Real President atau angka delapan untuk visi misi JK-Win juga dinilai sebagai bentuk dukungan kalangan Muhammadiyah terhadap pasangan ini. Padahal sebelumnya, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin pernah beranjangsana ke Istana Merdeka untuk menemui SBY. Tak jelas apa ada deal dalam pertemuan kedua tokoh tersebut di Istana Merdeka.
Terlepas dari semua itu, masyarakat Muhammadiyah melihat adanya kesimpangsiuran dukungan terhadap salah satu capres-cawapres. Buya Syafi'i ke Jusuf Kalla, Din Syamsuddin dan Amien Rais ke SBY. Salah satu Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir membantah bahwa iklan kampanye dukungan Syafi'i Ma'arif terhadap duet JK-Wiranto mewakili suara Muhammadiyah. Menurutnya hal itu merupakan sikap pribadi Syafi'i Ma'arif dan sama sekali tidak terkait dengan PP Muhammadiyah. Begitu juga dengan tokoh Muhammadiyah lainnya, dan Muhammadiyah menurutnya bersikap netral.
Adakah yang salah dengan kata-kata atau tindakan pria kelahiran Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935 itu? Tidak ada etika yang “ditabrak” Buya Syafi'i ketika dia mengatakan Jusuf Kalla sebagai The Real President, memberi angka delapan atas paparan visi kebudayaan Jusuf Kalla atau menyebut Jusuf Kalla sebagai tipikal pemimpin masa depan yang dibutuhkan bangsa ini. Hanya saja sebagian kalangan menilai Buya Syafi'i belum bias menjalankan “standar kelayakan” sebagai tokoh bangsa, mengingat dirinya sudah diposisikan seperti Gus Dur yang dituntut untuk mengambil tindakan bijak. Tapi ini hanya soal persepsi, dan peniaian seperti itu sah-sah saja.
Tabrakan etika terjadi ketika di satu sisi Buya Syafi'i ini menjadi salah satu Dewan Penasihat Tim Sukses Mega-Prabowo yang resmi didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), di sisi lain dia menjadi bintang iklan pasangan capres Jusuf Kalla-Wiranto. Sementara ini memang belum ada “perang” politik antara pasangan Mega-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto, karena keduanya memandang SBY-Boediono sebagai common enemy. Tetapi kondisi seperti ini tidak berarti merupakan legitimasi bagi Buya Syafi'i untuk berdiri di dua pintu. Sayangnya KPU sebagai peyelenggara pemilu juga tidak memiliki kode etik untuk mengatur masalah ini. ***