Skip to content

Mayjen TNI Purn Adang Ruchiatna

PDI-P, Dapil Jakarta I, Lulusan Akademi Militer 1967

Di kalangan aktivis gerakan mahasiswa generasi 1980-an, khususnya di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, nama Adang Ruchiatna tidak terlalu asing. Saat sedang panas-panasnya masalah pembangunan waduk Kedung Ombo (1988), Adang Ruchiatna memonitor terus masalah tersebut, karena saat itu dia menjabat sebagai Asisten Intelijen di Kodam IV/Diponegoro, di masa Pangdam Mayjen TNI Wismoyo Aris Munandar. Bisa dikatakan aspirasi gerakan pro-demokrasi, khususnya yang dimotori mahasiswa, sangat dimengerti oleh Adang, pemahaman yang kelak akan mewarnai perjalanan karirnya.

Seperti saat baru diangkat sebagai Pangdam IX/Udayana (1994), sejarah seperti terulang. Belum lama menjabat, Adang dipusingkan dengan rencana pembangunan resor pariwisata di seputar Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali, oleh BNR (Bakrie Nirwana Resort). Mahasiswa, rohaniwan dan kalangan cendekiawan setempat menentang proyek tersebut, karena dinilai bisa merusak kesucian pura.

Demikian juga saat harus melepas posisi Pangdam Udayana, didahului denga kasus yang dikenal sebagai “Insiden Liquisa” Timor Timur. Insiden Liquisa adalah insiden eksekusi tahanan Kodim setempat oleh sejumlah anggota TNI. Masa jabatannya sebagai Pangdam Udayana tergolong singkat, hanya sekitar satu tahun. Perkembangan dari kasus Liquisa, Adang bersama Komandan Korem Timor Timur, Kol Inf Kiki Syahnakri (terakhir Wakil KSAD, dengan pangkat Letjen), digeser dari pos masing-masing. Adang sempat dikaryakan di Depsos sebagai Irjen, sampai Depsos dilikuidasi oleh Presiden Gus Dur. Setelah resmi lepas sebagai PNS, Adang mulai merapat ke PDI-P, hingga dipercaya sebagai Ketua DPD DKI Jaya, dan kini maju juga sebagai caleg. ***